Kedengkian

Imam Al-Ghazali
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya dengki (hasad) itu memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.” Beliau juga bersabda, “Ada tiga perkara dimana tiada seorang pun yang dapat terlepas darinya, yaitu prasangka, rasa sial dan dengki. Dan aku akan memberikan jalan keluar bagimu dari semua itu, yaitu apabila timbul pada dirimu prasangka, janganlah dinyatakan, dan bila timbul di hatimu rasa kecewa, jangan cepat dienyahkan, dan bila timbul di hatimu rasa dengki, janganlah diperturutkan!”

Sabdanya pula, “Sesungguhnya telah mengalir kepada kalian penyakit ummat sebelum kalian, yaitu rasa dengki dan permusuhan. ; Sesungguhnya permusuhan itu dapat merusak segalanya.”

Di dalam Hadis Qudsi disebutkan, bahwa Nabi Zakariya as. berkata, “Sesungguhnya Allah swt. telah berfirman, ‘Orang yang dengki itu musuh nikmat-nikmat-Ku, tidak setuju kepada ketentuan-ketentuanKu dun tidak rela terhadap pembagian-pembagianku yang Kubagikan kepada semua hamba-Ku’.”
Kedengkian berarti menginginkan hilangnya karunia dan seseorang atau menginginkan turunnya musibah atas diri orang lain. Ini haram hukumnya. Tetapi, jika merasa iri dan ingin meniru seperti orang lain tanpa
menginginkan hilangnya karunia dan diri orang tersebut atau turunnya musibah kepadanya, hal ini dinamakan persaingan sehat (munafasah). Dan hal seperti ini tidak dilarang oleh agama. Atau boleh saja mengharapkan hilangnya karunia dan seseorang, jika ternyata karunia tersebut dipergunakan hanya untuk berfoya-foya dan berbuat durhaka kepada Allah swt. Namun apabila kemaksiatan telah hilang, ia tidak menginginkan hilangnya kenikmatan dari orang tersebut.
Sebab-sebab timbulnya kedengkian, adakalanya merasa sombong bermusuhan dan karena dirinya memang kotor (khabatsun nafs), karena munculnya kikir diri, agar pihak lain tidak mendapat nikmat Allah, tanpa tujuan yang benar.

Terapi Kedengkian
ungguh, hasud itu merupakan penyakit hati yang paling kronis, dan hanya dapat diobati dengan ilmu dan amal.
Dari segi ilmu kita harus menyadari bahwa kedengkian hanyalah akan merugikan diri sendiri, dan sedikit pun tidak akan merugikan orang yang kita benci, bahkan justru sebaliknya akan semakin menguntungkannya. Mengapa merugikan? Coba kita renungkan! Kebaikan kita terhapus dan kita dihadapkan kepada murka Allah oleh karena benci atas ketentuan-Nya dalam hal pembagian nikmat kepada hamba-Nya. Ini merupakan kerugian dan bahaya terhadap kehidupan agamanya. Sedang bahaya duniawi, setiap hari kita akan dirundung kegelisahan, karena seseorang yang kita anggap sebagai rival itu, yang kita inginkan kehancurannya, ternyata justru semakin jaya. Demikian pula musibah yang kita harapkan turun kepadanya, ternyata justru menimpa diri kita berikut sejumlah kesedihan dan kegelisahan.

Hal ini jelas menguntungkan pihak yang dihasud. Karena sesungguhnya karunia itu tidak akan musnah dengan rasa dengki kita, tetapi justru semakin dilipatgandakan kebaikan-kebaikannya. Sebab, setiap waktu kebaikan dari seorang pendengki itu akan dipindahkan pada catatan kebaikan orang yang didengkinya, sehingga akhirnya pendengki itu tidak mempunyai simpanan kebaikan sama sekali dan akhirnya merugi. Apalagi jika kedengkian itu disertai dengan cacian, jelas pihak yang didengki termasuk orang yang dizalimi, karena pendengki menginginkan agar pihak yang didengki kehilangan nikmat dunia, maka kelak di akhirat yang didengki justru mendapat nikmat akhirat dari perbuatan pendengki. Dalam kaitan ini pendengki jelas mendapatkan siksa dunia dan akhirat.

Orang yang dengki itu ibarat orang yang melempar batu pada musuh dan tidak mengenai sasaran, tetapi justru memantul mengenai rnatanya sendiri hingga buta. Perselingkuhan iblis semakin kokoh di sini. Karenanya, ia kehilangan nikmat dan ridha terhadap qadha’ Allah swt. Padahal jika ia ridha akan memperoleh pahala. Apalagi jika dengki itu sasarannya adalah ilmu dan wara’. Maka, bagi pecinta ilmu, Pahalanya semakin besar.

Adapun terapi amaliah, harus mengetahui dan menyadari hukum dengki serta kata-kata dan perilaku yang menjurus pada perbuatan itu, ia mengamalkan sebaliknya, bahwa yang didengki itu patut dipuji perlu ikut gembira jika kawannya itu mendapat nikmat. Sehingga yang didengki justru menjadi teman, rasa dengki jadi hilang, bahkan ia bersih dan dosa dengan kepedihannya.
Allah swt. berfirman:
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Q.s. Fushshilat: 34).

Barangkali Anda tidak berkenan menyamakan antara musuh dan teman Anda. Bahkan Anda benci bila teman dapat bencana, tapi tidak jika menimpa musuh. Anda juga senang jika nikmat mencurah pada teman, tidak pada musuh. Sebenarnya, Anda tidak dipaksa pada hal- hal yang Anda tidak mampu. Kalau Anda tidak mampu melakukan sikap sama antara musuh dan kawan, Anda bisa bebas dan dosa dengan dua cara:

1. Jangan menampakkan kedengkian terhadap musuh melalui ucapan, gerakan fisik, dan upaya-upaya bebas Anda. Kalau perlu perlakuan sebaliknya, dan tindakan semua itu.
2. Anda tidak menyukai pada diri Anda sendiri jika muncul rasa senang apabila nikmat Allah atas hamba-hamba-Nya musnah.

Manakala rasa tidak suka tidak diiringi motivasi agama, atas hilangnya nikmat pada diri orang lain, secara naluriah Anda tidak bisa lepas dan dosa. Anda pun tidak mampu mengubah watak tersebut. Ketidakmampuan itu terjadi dalam beberapa kondisi.
Tanda-tanda ketidaksukaan, apabila Anda mampu menghilangkan nikmat tersebut, Anda tidak disodori untuk menghilangkan, sementara Anda senang jika nikmat itu hilang. Tetapi jika mampu menolong agar nikmat itu langgeng atau bertambah, namun Anda melakukannya dengan perasaan enggan. Ini merupakan tanda ketidaksukaan.

Jika Anda seperti itu, Anda tidak berdosa terhadap hal-hal yang berkaitan dengan naluri Anda. Naluri itu berada dalam keadaan tunduk bagi yang lelap di hadapan Allah, yang tidak bisa lagi memandang dunia dan makhluk. Bahkan orang yang mendapat nikmat seandainya pun harus di neraka, nikmat itu tidak berarti. Jika di surga, maka kaitan mana suatu nikrnat bisa memasukkannya ke surga? Malah dia melihat semua makhluk adalah hamba Allah. Dia mencinti mereka karena mereka adalah hamba yang dicintai-Nya. Dia sangat senang bila pengaruh nikmat itu tampak pada hamba-Nya. Dan Situasi seperti ini sangat langka, karena tidak masuk
kategori taklif.

taken from: sufinews.com

Read More..

Sabar

Sayyidina Ali K.W

1. Sabar adalah kunci kesenangan.
2. Sabar adalah benteng dari kefakiran.
3. Sabar adalah keberanian.
4. Kesudahan sabar adalah positif dan menyenangkan.
5. Sabar termasuk salah satu sebab kemenangan.
6. Sabar adalah kendaraan yang tidak akan menjatuhkan pengendara¬nya.
7. Menanggung kesombongan kehormatan lebih berat daripada menanggung kesombongan kekayaan, dan kehinaan kefakiran menghalangi seseorang dari kesabaran, sebagaimana kebanggaan kekayaan mencegah seseorang dari berbuat adil.

8. Menanggung beban adalah kuburan aib.

9. Sabar ada dua, yaitu: sabar terhadap apa yang engkau benci, dan sabar terhadap apa yang engkau sukai.

10. Buanglah darimu segala kesusahan yang menimpamu dengan kesabaran yang teguh dan keyakinan yang baik.

11. Sesungguhnya di antara perbendaharaan kebajikan adalah sabar terhadap segala musibah dan menyembunyikan musibah itu.

12. Orang yang bersabar pasti akan meraih keberuntungan, meskipun itu diperoleh setelah waktu yang lama.

13. Bagi setiap bencana pasti ada batas yang berakhir padanya, sedang¬kan obatnya adalah sabar terhadapnya.

14. Kesabaran yang teguh akan memadamkan api nafsu.

15. Seandainya kesabaran berbentuk seorang laki-laki, pasti dia adalah seorang laki-laki yang saleh.

taken from: sufinews.com

Read More..

Mengenal Ihsan

Karena rahmat Allah itu sungguh dekat kepada orang-orang yang baik (muhsinîn) (Q.S. al-A’râf [7]: 56).

Siapa pun yang menyerahkan dirinya kepada Allah sepenuhnya dan ia dalam keadaan ihsân ……… kepada Allahlah segala sesuatu akan kembali (31:21)

Ayat-ayat tentang keadaan ihsân ini begitu banyak, tetapi beberapa ayat yang telah dikutip sudah mencukupi sebagai bukti. Makna dari ihsân, sebagaimana Nabi saw. mendefinisikannya, adalah beribadah dengan penuh kerendahan hati dan kehadiran hati (khudhû’ dan khusyu’) seolah-olah kita sedang melihat Allah dan sadar bahwa Dia melihat kita.
Al-Jurjani (w. 816H), dalam Kitâb al-Ta`rîfât-nya mengatakan:
Al-Ihsân: kata benda verbal (mashdar) yang menunjuk pada apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang dengan cara yang sebaik-baiknya. Dalam syariah, kata ini berarti beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat Dia, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu. Makna ini merupakan pencapaian sejati dari ibadah seorang hamba yang didasarkan pada penyaksian hakikat ketuhanan dengan cahaya penglihatan spiritual (al-tahaqquq bi al-`ubûdiyyah `alâ musyâhadati hadhrat al-rubûbiyyat bi nûr al-bashîrah). Yakni: penyaksian Allah sebagaimana Dia digambarkan dengan sifat-sifat-Nya dan melalui sifat-sifat-Nya itulah seseorang akan menyaksikan-Nya dengan keyakinan, bukan secara maknawi (fa huwa yarâhu yaqînan walâ yarâhu haqîqatan). Itulah sebabnya mengapa Nabi saw. mengatakan, “Seolah-olah kamu sedang melihatnya,” karena seseorang menyaksikan-Nya dari balik hijab sifat-sifat-Nya.3

Dalam kamus, kata ihsân dan kata bentukannya memiliki beberapa makna berikut:
Hasuna: “menjadi, tampak, menjadikan sempurna, indah, bagus”
Ihsânan: “(berbuat secara) sempurna”
Ahsana: “ia melakukan suatu kebaikan yang besar”
Ihsân: “kebaikan”
Husnâ: “hadiah” atau “balasan baik”
Hasan: “sempurna, indah, bagus”
Hisânun: “sesuatu yang indah sempurna”

“Menjadi indah” dalam makna yang pertama berarti menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik, untuk memperelok diri secara batin dan lahir. Apabila digunakan sebagai kata sifat, maka kata ini berarti kebaikan sebagai suatu ciri atau sikap batin dan juga kesabaran atau ketenangan.

Mulai sekarang akan semakin jelaslah bahwa keadaan ihsân yang disebutkan di dalam Alquran itu merupakan suatu keadaan yang sangat tinggi, yang ditunjukkan oleh malaikat Jibril sebagai bagian hakiki dari agama, dan dia meletakkannya pada tingkatan yang sama dengan keadaan islam (ketundukkan) dan iman (kepercayaan). Agama terdiri dari tiga keadaan: islam, iman dan ihsan, yang masing-masing memiliki definisinya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya, mengapa di dalam Alquran hal ini disebutkan pada banyak sekali tempat, dan mengapa Nabi saw., ketika ditanya oleh Jibril mengenai ihsan, memberikan penekanan yang sama pentingnya dengan islam dan iman.

Karena sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang taqwa dan orang-orang yang baik (Q.S. al-Isrâ’ [16]: 128)

Adakah lagi balasan bagi kebaikan (ihsan) selain dari Kebaikan? (Q.S. al-Rahmân [55]: 60)

Dan Ia membalas mereka yang berbuat baik dengan apa yang lebih baik (53:31)

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat baik (ihsân), dan memberi kepada kerabat, dan Ia melarang perbuatan keji dan buruk dan berlaku zalim; Ia mengajari kalian agar kalian menjadi ingat. (Q.S. al-Isrâ’ [16]: 90)

Tidak, siapa saja yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah dan ia seorang yang muhsin (yang melakukan ihsân), ia mendapatkan balasannya di sisi Tuhannya, kepada mereka tidak ada rasa takut juga mereka tidak akan bersedih (Q.S. al-Baqarah [2]: 112).

Siapa pun yang menyerahkan dirinya kepada Allah sepenuhnya dan ia dalam keadaan ihsân ……… kepada Allahlah segala sesuatu akan kembali (31:21)

Siapa lagi yang dapat lebih baik dalam agama daripada orang berserah diri kepada Allah sepenuh dirinya dan melakukan kebaikan dengan cara yang Allah sukai … (4:125)

Inilah makna dari keseluruhan ilmu tasawuf. Mereka yang menentangnya, silakan saja mengubah istilah ini apabila sesuai dengan keinginannya, karena istilah apa pun tidak akan mengubah sifat dasar atau hakikat fundamental dari sesuatu. Sebagaimana peribahasa mengatakan, “bunga ros dengan nama lain apa pun akan tetap harum baunya.”[]

Catatan:
1. Ibnu Qayyîm, Raudhat al-Muhibbîn wa Nuzhat al-Musytâqîn, (Beirut: Dar al-kutub al-‘ilmiyyah, 1983) h.406-409.
2. Pandangan al-Ghazâlî disebutkan di dalam The Reliance of the Traveller, h.12. Untuk Suyuti, lihat di bawah, Bab 4: Perkataan dan Tulisan Para Imam dan Ulama.
3. Al-Syarîf ‘Alî Ibn Muhammad al-Jurjani, Kitâb al-ta`rîfât (Beirut: Dar al-kutub al-ilmiyyah, 1408/1988) h. 12

by Sufi Road


Read More..

Apa Artinya Amal Tanpa Keikhlasan

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany - Pengajian Syeikh Abdul Qadir al-Jilany, hari Selasa bulan Sya’ban tahun 545 H di Madrasahnya
Belajarlah, lalu amalkan, dan ikhlaslah dalam beramal, hingga anda bisa tajrid (menepiskan) makhluk dari hatimu. “Katakankan: “Allah”. Lalu tinggalkan mereka dalam kesesatanannya mereka bermain.” (Al-An’aam: 91)

Seperti ungkapan Nabi Ibrahim as:
“Sesunggunya mereka itu musuh bagiku, kecuali Tuhan semesta alam.” (Asy-Syu’ara’: 77)

Hindari makhluk (dari hatimu) dan singkirkan mereka sepanjang mereka membuatmu berbahaya. Bila tauhidmu sudah benar dan kotoran syirik keluar dari hatimu, baru anda bergaul dengan mereka dan memberikan manfaat pada mereka melalui pengetahuan dan petunjuk menuju Pintu Tuhan mereka Azza wa-Jalla.



“Kematian” diri seorang Ulama’ Khos adalah mati dari totalitas makhluk Allah, yaitu kematian hasrat dan ikhtiarnya sendiri. Jika seseorang benar dalam kematian ini, benar pula hidupnya yang abadi bersama Allah Azza wa-Jalla. Maka pada saat itlah anda merasakan betapa kematian lahiriyah hanya sejenak belaka, seperti ketaksadaran dalam tidur, lalu bangun.
Bila anda ingin meraih kematian ini, anda harus meraih inti ma’rifat dan taqarrub serta tidur di hamparan Al-Haq Azza wa-Jalla, hingga dirimu diraih oleh Tangan Rahmat dan Anugerah, lalu anda hidup dalam keabadian. Karena nafsu butuh makanan, qalbu juga butuh makanan, begitu pula rahasia qalbu juga butuh makanan. Di sinilah Nabi saw, bersabda:
“Aku sebenarnya berlindung pada Tuhanku, lalu Dia memberi makan dan minum kepadaku.” (Hr Ahmad)

Yakni makanan rahasia maknawi, yang dimakan oleh ruhku yang ruhani, lalu Dia memberi konsumsi dengan makanan yang spesial padaku.
Pada awalnya menanjak dengan lahiriyahnya dan qalbunya, setelah itu lahiriyahnya terhadang dan hatinya yang menanjak serta rahasia hatinya, baru beliau hadir di tengah publik manusia. Begitu pula para pewaris Nabi saw, yang secara hakiki memadukan antara ilmu, amal, keikhlasan dan pendidikan terhadap makhluk.
Wahai kaum Sufi, makanlah dan minumlah dari sisa-sisa mereka…! Wahai orang yang mengaku berpengetahuan. Apa artinya pengetahuan tanpa amaliah, dan apa artinya amal tanpa keikhlasan, karena amal tanpa ikhlas ibarat jasad tanpa ruh.

Tanda keikhlasan anda, manakala anda tidak menengok lagi pada pujian makhluk, juga tidak terpengaruh oleh cacian mereka, bahkan tidak berharap pada jasa makhluk. Bahkan anda melakukannya demi menegakkan Hak Ketuhanan. Anda beramal bagi Sang Pemberi nikmat, bukan demi nikmatNya. Hanya bagi Sang Pemilik, bukan pada milikNya. Bagi Yang Haq, bukan pada yang batil.
Apa yang ada di sisi makhluk hanyalah kulit, sedangkan isinya ada pada Tuhan Azza wa-Jalla. Jika kejujuran hatimu dan ikhlasmu benar bagiNya, dan wukufmu di hadapan Rabb benar, Allah memberi konsumsi dirimu dari minyaknya isi tersebut. Dan anda diperlihatkan isi sejati, dan rahasianya rahasia, maknanya makna, maka saat itulah anda lepas dari segala hal selain Allah swt.

Lepas telanjang hanya di hati bukan di fisik. Zuhud itu bagi hati, bukan jasad. Berpaling itu hanya pada batin, bukan pada dzohir. Memandang itu pada makna-maknanya bukan pada kerangkanya. Memandnag itu pada Al-Haq Azza wa-Jalla, bukan pada makhluk. Yang urgen adalah bagaimana anda bersama Allah bukan bersama makhluk. Maka akhirat dan dunia sirna, lalu tanpa dunia dan tanpa akhirat. Tak ada selain Dia Azza wa-Jalla.

Maka, para pecinta menikmati kecintaannya bersama Allah Azza wa-Jalla, mereka adalah kalangan terpilih dari makhlukNya, disebabkan cobaan yang menimpa mereka secara fisik. Orang-orang syuhada’ adalah orang yang mati berperang akibat pedang orang kafir, dimana cobaan fisik menimpa mereka. Bagaimana dengan Syuhada’ yang mati karena pedang-pedang cinta?

Maksiat menyebabkan hancurnya bangunan-bangunan tembok dan fondasi agama. Maksiat telah menghancurkan negeri dan pasra hamba Allah. Anda juga demikian, ketika anda maksiat, maka fisikmu juga roboh, lalu merobohkan agamamu, karena anda mengalami kebutaan jiwamu, roboh dan sirnanya kekuatanmu. Lalu banyak sekali penyakit yang datang, membuat anda miskin, hartamu hancur, lalu anda meminta-minta pada kawan-kawan anda dan musuh anda.
Celaka anda wahai munafiq, jangan engkau khianati Allah azza wa-Jalla, karena anda mengamalkan untuk Allah Azza wa-Jalla, tetapi nyatanya untuk makhluk. Anda pamer pada mereka, bermunafiq pada mereka, mencari muka pada mereka, sedangkan anda lupa pada Tuhanmu Azza wa-Jalla. Dalam waktu dekat engkau keluar dari dunia dalam keadaan bangkrut.

Hai orang sakit! Anda mesti berobat, dan inilah obatnya. Obat itu tidak ada kecuali ada di tangan orang-orang saleh dari para hamba Allah Azza wa-Jalla. Ambillah obat dari mereka dan gunakan dengan benar, maka anda akan sembuh selamanya, bagi penyakit pikiranmu, hatimu, dan rahasia batinmu, bahkan bagi sunyimu bersama Tuhanmu Azza wa-Jalla. Lalu kedua matahatimu terbuka, dan anda memandang Tuhanmu Azza wa-Jalla. Maka jadilah anda tergolong pecinta yang menetap di PintuNya, yang tiada memandang kecuali hanya kepadaNya. Namun bagaimana hati yang diharubiru bid’ah bisa memandang Al-Haqq Azza wa-Jalla?

Wahai kaum sufi, ikutilah perintah Allah swt, jangan berbuat bid’ah. Berselaraslah denganNya dan jangan kontra. Taatlah padaNya dan ikhlaslah, jangan sampai kalian musyrik pada selainNya. Jalanlah menuju kepadaNya, jangan tinggalkan pintuNya. Mohonlah padaNya jangan mohon selainNya. Mohonlah pertolongan padaNya jangan pada lainNya. Tawakkallah padaNya jangan tawakal pada lainNya. Anda yang terpilih, serahkan jiwamu padaNya, ridholah atas aturanNya, lebih sibuklah untuk berdzikir padaNya disbanding meminta padaNya. Dalam firmanNya di hadits Qudsyi, Allah swt berfirman: “Siapa yang sibuk dengan dzikir kepada Ku, dibanding memohon pada Ku, Aku akan memberikan yang lebih utama dibanding apa yang Aku berikan pada orang yang meminta kepadaKu.” (Hr. At-Tirmidzy).
Siapa yang yang sibuk dengan dzikir kepadaNya dan hatinya remuk redam di hadapanNya, lebih ridho kepada pemberianNya, bahwa Allah mendampingiNya, itulah yang disebut oleh Allah Azza wa-Jalla:
“Akulah pendamping orang yang berdzikir padaKu.” (Hr. Al-Ajluny)
“Akulah berada di sisi orang yang remuk redam hatinya demi Aku.” (Hr. Az-Zubaidy)

Anak-anak sekalian….Dzikirmu padaNya, mendekatkan hatimu kepadaNya, dan engkau memasuki rumah taqarrubNya, anda jadi tamuNya. Tamu itu dihormati, apalagi tamunya sang Raja. Lalu sampai kapan anda sibuk dengan harta, demi harta, sedangkan dalam waktu dekat harta milikmu berpisah denganmu. Dalam waktu dekat anda masuk di akhirat, dan dunia seperti tak ada, dan yang ada hanya akhirat.
Kalian jangan lari dariku, karena aku tidak butuh kalian, tidak butuh manusia baik dari timur maupun barat.
Apa yang kukehendaki dari kalian, adalah demi kepentingan kalian. Jangan sampai anda berbuat bid’ah dalam agama Allah Azza wa-Jalla sedikit pun. Ikutilah mereka yang berpengetahuan dan mampu mempresentasikan nyata atas Kitab dan Sunnah, karena keduanya yang menghantar diri anda kepada Rabbmu Azza wa-Jalla. Kalau anda berbid’ah, maka buktimu hanyalah akal dan hawa nafsumu. Maka keduanya hanya akan menghantarmu ke neraka, mempertemukan anda pada Fir’aun, Haman dan pasukan-pasukannya.

Janganlah anda berebut bagian dariNya, hingga anda tidak diterima. Anda mesti masuk ke dalam rumah pengetahuan dan pendidikan, lalu mengamalkan ilmunya dengan ikhlas. Kalau anda bersama diri anda saja, tak dapat sesuatu pun, Anda harus menempuh pendidikan dan mengamalkannya tanpa orientasi duniawi. Jangan sampai dunia menjadi sesuatu anda tempuh, karena akan putus. Tempuhlah perjalananmu yang berguna.
Sesorang berdiri dan mengalami ekstase, dan berkata, “Apakah tak ada penghantar pengantin ini, hingga ada tabuhlah rebana?” Lalu ia berkata, “Sungguh cinta pemuda ada sebelum rebana…”.

Wahai anak-anak sekalian. Anda inginkan dan anda sampai pada ridho Tuhanmu Azza wa-Jalla. Sebab jika Dia Ridho padamu, Dia mencintaimu, dan anda tak peduli dengan susahnya rizki dalam hatimu, karena Allah azza wa-Jalla mendatangkan rizki padamu tanpa anda harus pusing, sibuk dan payah. Jadikanlah satu- satunya hasrat hatimu adalah Allah Azza wa-Jalla. Jika anda berbuat demikian, makaAllah menyelsaikan seluruh kesusahanmu. Kesusahanmu adalah apa yang anda hasrati. Jika hasratmu adalah akhirat, anda akan menyertainya. Jika hasratmu makhluk anda pun menyertai mereka. Jika hasratmu Allah Azza wa-Jalla, anda bersamaNya dunia dan akhirat.

taken from: sufinews.com

Read More..

Antara Cinta dan Bencana

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany
Pengajian Syeikh Abdul Qadir al-Jilany, hari Selasa sore 8 Sya’ban tahun 545 H di Madrasahnya.
Rasulullah saw, bersabda:
“Siapa yang tampil elok di hadapan manusia karena agar dapat dukungan kesenangan mereka, dan melawan Allah melalui pelanggaran yang dibenciNya, maka ia bertemu Allah Azza wa-Jalla dalam kondisi Allah murka padanya.”


Wahai dengarkan kalam Kenabian ini, hai orang-orang munafiq! Hai orang yang menjual akhirat dengan dunianya. Wahai yang menjual Allah Azza wa-Jalla dengan kepentingan makhluk! Wahai penjual hal-hal yang abadi dengan hal-hal yang fana’, pasti bangkrutlah daganganmu dan habislah modalmu.

Celaka kalian ini. Kalian menampilkan diri untuk suatu murka Allah Azza wa-Jalla, karena siapa pun yang berias untuk manusia yang bukan tempatnya, Allah Azza wa-Jalla bakal memurkainya. Riasilah fisik anda dengan adab syari’ah, dan riasilah batin anda dengan mengeluarkan makhluk dari dalam batin anda. Tutuplah pintu-pintu mereka, kefanaan mereka dari hatimu sampai seakan-akan mereka tidak pernah diciptakan sama sekali, hingga anda tak pernah memandang adanya ancaman dan manfaat dari mereka. Anda telah menghiasi lahiriah anda, dan meninggalkan hiasan hati anda.

Padahal hiasan hati itu dengan tauhid, ikhlas, berpegang teguh percaya pada Allah Azza wa-Jalla, berdzikir kepadaNya dan melupakan selainNya.
Nabi Isa as, bersabda, “Amal saleh itu adalah amal yang tidak membebaninya.”
Wahai orang gila, akalmu tidak nyambung dengan urusan akhirat dan dunia, karena itu tidak ada gunanya bagimu. Berjuanglah untuk meraih iman, maka anda pasti mendapatkannya. Bertobatlah, dan evaluasilah kesalahanmu, menyesallah dan, dan alirkan airmatamu yang membelah pipimu. Karena menangis oleh rasa takut kepada Allah swt itu bisa meredupkan neraka maksiat, mematikan api amarah Allah Azza wa-Jalla. Bila hatimu taubat, maka cahaya taubat yang benar akan mencerahi wajahmu.

Anak-anak sekalian… Tekunlah dalam menjaga rahasia batinmu semaksimal mungkin, kecuali anda tidak mampu, maka anda termaafkan. Cinta itu bisa merobohkan dinding dan tirai, tirai rasa malu, keadaan, dan pandangan makhluk. Orang yang tak berdaya ia diperintahkan untuk mengeluarkannya, dan orang yang mukallaf (mendapatkan tugas kewajiban) tetapi ia terkalahkan oleh ketakberdayaannya, berarti ia telah menggunakan celak mata dengan debu di kakinya. Sebab ada hal-hal yang mesti dipilah, mana yang sifatnya nafsu, mana yang sifatnya qalbu, dan mana yang kepentingan makhluk, dan mana yang sifatnya Rabbani.
Berjuanglah agar dirimu bukan dirimu, tetapi agar segalanya Dia. Berjuanglah agar anda tidak bergerak dalam menolak bencana dari dirimu dan tidak menarik manfaat kepadamu. Sebab jika anda mampu demikian, malah Allah Azza wa-Jallan menempatkan makhluk yang membantumu dan menyelamatkan dirimu dari bahaya itu. Jadilah dirimu di hadapan Allah Azza wa-Jalla seperti mayat yang ada di tangan orang yang memandikannya, seperti ahli gua Kahfi di tangan Jibril as.

Jadilah dirimu bersama Allah Azza wa-Jalla tanpa wujud dan tanpa ikhtiar serta ta secara total tanpa mengaturNya. Kokohkan pijakan imanmu dan jiwamu di hadapanNya, ketika takdirNya yang berat turun kepadamu.

Sebab, iman itu bisa diukur dengan kekokohannya menghadapi takdirNya, sedangkan kemunafikan selalu lari dari ketentuan takdirNya. Orang munafiq ketika malam tiba dan siang berlalu senantiasa lari menuju rumahnya mencari jalan aman, menggemukkan kenikmatan hawa nafsunya dan nalurinya, sementara kedua mata hatinya dan rahasia batinnya buta.

Pintu rumahnya kelihatan ramai, sedangkan isi rumahnya sudah roboh. Dzikir hanya sebatas lisan, hatinya kosong. Marahnya hanya untuk dirinya bukan demi Tuhannya Azza wa-Jalla. Sedangkan orang beriman kebalikannya. Dzikirnya hanya bagi Allah Aza wa-Jalla, baik lisan maupun hatinya, bahkan dalam banyak waktu qalbunya berdzikir, lisannya diam. Marahnya, benar-benar matrah karena Allah Azza wa-Jalla, bukan demi kepentingan nafsunya, hawa nafsu dan nalurinya, serta bukan demi dunia. Ia tidak dengki dan tidak kontra karena iri kepada yang meraih materi bagiannya.

Anak-anak sekalian… Jangan sampai anda dengki kepada hal-hal yang bukan bagianmu, karena Allahlah yang memberi dan mengambil, sedangkan anda malah hancur, hina dan terhinakan. Apakah bagian dari Allah itu bisa berkurang katrena iri dengkimu? Padahal ilmunya Allah pada takdir orang itu sudah lebih dahulu ada? Jika engkau menentang Tuhanmu Azza wa-Jalla atas takdirNya yang sudah ditentukan padamu dan orang lain, anda telah gugur di hadapanNya dan ilmu anda tidak berguna, sebagaimana firmanNya : “ Dan bekerja lagi kepayahan…” (Al-Ghosiyah: 3)

Taubatlah sekarang kepada Allah Azza wa-Jalla. Orang yang yang terlindungi, pasti hatinya cerdas. Janganlah berhenti kembali kepada Allah gara-gara turunnya bencana kepadamu. Tunggulah jalan keluar yang diberikan kepadamu dariNya. Jangan sampai anda putus asa, karena setiap saat ada jalan keluar. “Setiap hari Dia dalam urusanNya” (Ar-Rahmaan: 29), dari satu bangsa ke bangsa lain, maka sabarlah bersamaNya dan relalah dengan takdirNya.

“Engkau tidak tahu, barangkali setelah itu Allah memberikan anugerah baru.” (At-Thalaaq: 1)
Jika engkau sabar Allah Azza wa-Jalla meringankan ujian darimu, dan memberikan anugerah perkara baru yang dicintaiNya dan engkau mencintainya. Namun jika anda menentang dan kontra, akan bertambah berat beban deritamu, bertambah gara-gara kontramu kepadaNya, sebab gara-gara kontramu itulah anda malah berteguh dengan dirimu dan hawa nafsumu, serta motivasi duniawimu dan ambisi-ambisimu.
Wahai kaum Sufi… Jika saja memang harus begitu, bolehlah nafsumu di pintu dunia, sedangkan hatimu harus tetap di pintu akhirat, sedangkan rahasia hatimu (sirr) ada di pintu Tuhan, sampai nafsumu berbalik pada hatimu, dan merasakannya, sedangkan hatimu berbalik pada sirrmu, hingga merasakan nya pula, serta sirrmu berbalik menjadi fana’ di dalamnya yang tidak merasakan apa-apa, kemudian ia dihidupkan hanya bagiNya bukan selainNya. Maka saat itulah rasanya satu dirham beribu kali lipat menjadi emas, karena kembali dalam keabadian primordial yang hakiki.

Sungguh berbahagialah orang yang mengenal apa yang saya katakana ini dan percaya. Berbahagialah orang yang mengamalkannya dan ikhlas dalam beramal. Dan berbahagialah orang yang meraih amalnya itu lalu mendekatkannya kepada Allah Ta’ala.

Wahai anak-anak sekalian… Bila anda mati, anda baru memandang dan mengenalku dari kanan dan kirimu, betapa aku membawa bebanmu dan membelamu dan memohonkan dirimu. Tetapi sampai kapan anda , menuhankan makhluk dan menyerahkan diri pada mereka? Anda harus mengenal, bahwa tak seorang pun sebenarnya bisa memberi manfaat dan bahaya kepadamu, apakah mereka miskin, kaya, mulia maupun hinanya mereka.

Hendaknya anda tetap teguh pada Allah Azza wa-Jalla. Jangan berserah diri pada makhluk, bergantung diri pada pekerjaanmu, upaya dan kekuatanmu. Berserah dirilah pada anugerah Allah Azza wa-Jalla dan tawakallah kepada yang memberi ketentuan pekerjaanmu dan rizkimu.

Bila anda telah melakukannya maka Allah Azza wa-Jalla memberlakukan dirimu bersamaNya, dan menampakkan keajaiban kekuasaan dan takdirNya, dan mewushulkan hatimu kepadaNya, lalu Dia mengingatkanmu setelah wushul itu, hari-hari yang berlalu sebagaimana ahli syurga dalam syurganya, mengingat hari-hari dunia.

Bila anda kontra dengan formalitas akibat, maka anda akan bertemu Sang Penyebab. Jika anda kontra dengan naluri kebiasaan, maka kebiasaan anda akan tunduk kepadamu. Siapa yang berbakti kepadaNya, segalanya akan berbakti padanya. Siapa yang taat kepadaNya, ia akan dipatuhi. Siapa yang memuliakanNya, ia dimuliakan. Siapa yang dekat padaNya, segalanya didekatkan. Siapa yang taqadhu, ia akan naik. Siapa yang menghormatiNya, ia dihormati. Siapa yang bagus adabnya akan dekat kepadaNya. Kebagusan adab mendekatkan padamu kepadaNya, sedangkan adab buruk menjauhkan dirimu dariNya. Kebagusan adab adalah taat pada Allah sedangkan su’ul adab adalah maksiat kepadaNya.
Jangan sampai dirimu menunda untuk melihat dirimu dan muhasabah (evaluasi) pada diri
sendiri, segeralah muhasabah di dunia sebelum anda sampai ke akhirat.

Nabi saw, bersabda: “Sesungguhnya Allah - Azza wa-Jalla – malu menghitung amal hamba-hambaNya yang wara’ di dunia.” (Hr. Al-‘Ajluni)
Makanya, kalian harus menjalankan kewara’an, bila tidak, maka kehinaan akan membelenggumu. Wara’lah dalam kerjamu di dunia, jika tidak, akan kesenangan syahwatmu akan menjungkirbalikkan dirimu di dunia dan di akhirat. Dinar itu negeri neraka, dan dirham itu negeri problema, apalagi jika didapatkan melalui cara-cara yang haram. Besok di akhirat semua akan nyata apa yang saya katakana padamu. Hari ini, anda masih buta dan tuli. Nabi saw, bersabda: “Cintamu pada sesuatu akan membuatakanmu.” (Hr. Abu Dawud)
Lepaskan hatimu dari dunia, laparkan dan buanglah, sampai Allah swt, memakaikan baju dariNya, memberikan makan dan minum pada hatimu. Selamatkan lahir dan batinmu menuju pada
Nya, jangan mengaturNya. Bahkan seharusnya anda, adalah Dia bukan anda.

Jadilah dirimu, karena dunia memang negeri amal, sedangkan akhirat adalah negeri balasan, negeri anugerah dan pemberian. Itulah umumnya yang ada di hati orang-orang saleh.
Yang langka justru kalangan yang keluar dari serba duniawi, karena harapannya dan cintanya hanya kepada Allah Ta’ala, dan ia ingin bebas sebelum datangnya akhirat. Ia trekun dengan menjalankan kewajiban fardhu, dan disantaikan oleh ibadah-ibadah sunnah. Karena fardhu tidak bisa gugur oleh berbagai situasi dan posisi. Karena fardhu adalah milik individu-individu dari para hamba Allah Ta’ala, dan sungguh langka yang melakukan seperti itu.

Anak-anak sekalian… Zuhudlah dan berpalinglah dari kecintaan dunia, anda bisa ringan bebanmu. Bila anda dapatkan bagian dari dunia, pasti akan diberikan padamu, dan bagian dating dalam kondisi anda mulia dan bertanggungjawab.

Anda jangan makan dengan nafsu dan hawa nafsumu, karena bisa menjadi hijab bagi hatimu dari Tuhanmu Azza wa-Jalla. Orang yang beriman tidak makan untuk nafsunya dan dengan nafsunya, tidak berbaur dengan hawa nafsunya, tetapi berkonsumsi demi kekuatan untuk taat kepada Allah Azza wa-Jalla. Ia makan menurut keputuhan langkah lahiriyahnya ke hadapan Allah Azza wa-Jalla. Ia makan karena kepentingan syar’y, bukan hawa nafsunya.

Sedangkan seorang wali, makan karena diperintah makan oleh Allah Azza wa-Jalla, sedangkan wali badal, sebagai menterinya Quthub makan karena digerakkan Allah Azza wa-Jalla. Adapun sang Quthub, makan dan bekerja, sebagaimana makannya Nabi saw, dan kinerjanya Nabi saw.

Bagaimana tidak demikian? Karena ia adalah pelayan, pengganti dan khalifahnya Nabi saw bagi ummatnya? Sang Quthub adalah khalifar Rasulullah saw, sekaligus juga khalifahnya Allah Azza wa-Jalla. Dialah khalifah batin, sedangkan para pemimpin muslim terdahulu adalah khalifah dzahir, dimana seseorang tidak boleh meninggalkan kepatuhan perintahnya.

Dikatakan, pemimpin muslim yang benar-benar adil, adalah quthub zamannya. Jangan meremehkan , karena ia menjaga kemanan dzohirmu. Sedangkan Quthub hakiki adalah yang menjaga perilaku batinmu.
Tak seorang pun diantara kalian, kecuali esok di hari kiamat akan disertai malaikat yang diberi tugas di dunia mencatat kebaikan dan keburukan amal seseorang, dan masing-masing membawa 99 catatan, dan masing-masing catatan itu panjangnya sejauh mata memandang yang di dalamnya ada catatan kebaikan dan keburukan, dan segala hal yang muncul dari tindakannya itu.

Seseorang diharuskan membaca semuanya, lalu mereka membacanya, walau di dunia tidak bagus amalnya, dan tidak terbaca, maka tetap tercatat, karena dunia adalah negeri hikmah dan akhirat adalah negeri qudrot.

Dunia butuh perangkat sebab akibat, dan akhirat tidak butuh itu semua. Manakala seseorang mengingkarinya, anggota badannya bicara. Ia berkata sesuai dengan tindak tanduknya di dunia secara total. Kalian benar-benar diciptakan untuk perkara yang besar dan anda tidak punya kabar baik. Allah Azza wa-Jalla berfirman: “Apakah kalian menyangka, bahwa sesungguhnya Kami ciptakan kalian sia-sia, lalu kalian tidak maqu kembali kepada Kami?” (Al-Mu’minun, 115).

Read More..